16/03/2026

Teknologi Satelit dan Drone: Modernisasi Pemantauan Bencana Alam di Indonesia

Indonesia, dengan ribuan pulaunya dan risiko bencana yang tinggi, secara historis menghadapi tantangan besar dalam pemantauan wilayah yang luas dan sulit dijangkau. Namun, kini, era digital telah membawa solusi revolusioner: Teknologi Satelit dan drone telah menjadi tulang punggung baru dalam upaya modernisasi pemantauan bencana alam di Tanah Air. Kemampuan penginderaan jauh (remote sensing) dari angkasa luar dan udara memberikan data real-time yang sangat krusial, mengubah cara Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan lembaga terkait merespons krisis. Hal ini terlihat jelas saat terjadi Erupsi Gunung Semeru pada Desember 2024, di mana citra satelit dan pemetaan drone digunakan untuk menentukan zona bahaya dan jalur evakuasi yang aman dalam hitungan jam.

Pemanfaatan Teknologi Satelit menawarkan keunggulan tak tertandingi dalam pemantauan pra-bencana. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menggunakan citra satelit cuaca Himawari untuk memprediksi pembentukan siklon tropis, memantau pergerakan awan, dan menghitung curah hujan ekstrem, yang memungkinkan mereka mengeluarkan peringatan dini hidrometeorologi 2 hingga 5 hari sebelum bencana terjadi. Di sisi lain, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN)—kini menjadi bagian dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)—mengandalkan satelit pengamatan bumi resolusi tinggi untuk memetakan perubahan tata guna lahan, mengidentifikasi titik rawan longsor, serta memantau pergeseran permukaan tanah yang menjadi indikasi aktivitas sesar aktif.

Sementara satelit memberikan pandangan makro dari ketinggian, drone mengisi kebutuhan pada tingkat mikro dengan detail yang luar biasa. Setelah gempa Magnitudo 5,7 di Waropen, Papua, pada 3 Oktober 2025, tim dari Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) BNPB segera menerbangkan 4 unit drone pemetaan. Misi 3 hari ini bertujuan untuk mendapatkan citra udara beresolusi sangat tinggi (5 cm per piksel) dari desa-desa terdampak, yang kemudian digunakan untuk menghitung volume puing dan mengklasifikasikan tingkat kerusakan rumah warga secara akurat. Data akurat ini sangat penting untuk perencanaan rehabilitasi dan rekonstruksi.

Integrasi Teknologi Satelit dan drone juga meningkatkan efisiensi operasi SAR (Search and Rescue). Sebagai contoh, dalam operasi pencarian korban banjir di suatu daerah pedalaman, drone dilengkapi kamera termal untuk mendeteksi tanda-tanda panas tubuh di malam hari atau di bawah vegetasi lebat. Penggunaan alat ini mengurangi risiko bagi petugas penyelamat yang dipimpin oleh Komandan Tim SAR Gabungan, Mayor Kav. Bambang Eko, yang bertanggung jawab atas 250 personel gabungan. Modernisasi ini tidak hanya tentang teknologi, tetapi juga tentang peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Saat ini, lebih dari 300 personel BPBD telah dilatih sebagai operator drone bersertifikasi, memastikan bahwa pemanfaatan Teknologi Canggih ini dapat diimplementasikan secara merata di seluruh wilayah Indonesia.